Aplikasi PINTU Beri Edukasi Literasi Digital untuk Warga Bekasi

Aplikasi PINTU Beri Edukasi Literasi Digital untuk Warga Bekasi

Jakarta– PT Pintu Kemana Saja (PINTU) berkolaborasi dengan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina untuk mendukung peningkatan literasi digital masyarakat.

Melalui program bertajuk “Cek Sebelum Cekcok”, program literasi ini berfokus pada penyuluhan mengenai kewaspadaan terhadap bahaya hoaks, deepfake video, hingga ancaman siber yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Kegiatan yang diselenggarakan di Trimedia Green Park, Bintara, Bekasi, Jawa Barat ini dihadiri sekitar 150 warga Kota Bekasi dan mendapat dukungan dari berbagai pihak di antaranya, Kementerian komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia yang diwakili oleh Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha, Ir. Hj. Chairun Nisa, M.M. selaku Anggota DPRD Kota Bekasi, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Dr. Rini Sudarmanti, dan Reyner Jonathan selaku Senior Product Marketing Specialist Pintu. 

Timothius Martin, Chief Marketing Officer (CMO) PINTU menjelaskan, “Kolaborasi PINTU dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber, sekaligus agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk manfaat sebesar-besarnya. Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi serta landasan bagi masyarakat yang lebih cerdas digital.”

Ir. Hj. Chairun Nisa, M.M., Anggota DPRD Kota Bekasi, dalam sambutannya menjelaskan, “Kota Bekasi memiliki jumlah penduduk sebanyak 2,8 juta orang dengan pengguna internetnya ada 2,2 juta orang. Kita bersyukur dikunjungi dan diadakan acara ini di Kota Bekasi, karena kita wajib menjadi bagian dari sumber daya manusia (SDM) Kota Bekasi yang cerdas digital. Karena kita tahu hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya berlama-lama di sosial media, maka dari itu, perlu untuk melindungi kita semua dari praktik penipuan digital,”

Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Dr. Rini Sudarmanti dalam paparannya memberikan imbauan kepada peserta, “Masyarakat, khususnya Ibu-ibu, perlu mengenali ciri hoaks agar tidak terjebak informasi keliru. Kita harus curiga jika ada judul yang lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta ‘sumber hantu’ yang tidak jelas nama ahlinya.”

“Waspadai juga narasi bombastis yang memaksa untuk menyebarkan berita demi memicu kepanikan. Jika menemukannya, jangan menebak-nebak, melainkan manfaatkan panduan gambar resmi dari pemerintah untuk mengecek kebenarannya,” tegasnya.

Rini menyarankan, gunakan formula verifikasi mandiri dengan tarik napas, cek faktanya, cari dari sumber kredibel, lalu luruskan secara santun. Melalui kemudahan pengecekan digital saat ini, ibu-ibu sebagai tiang keluarga memegang kendali utama untuk mengedukasi anak-anak dan suami demi membentengi keluarga dari ancaman informasi yang menyesatkan.

Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha, dalam acara yang sama mengungkapkan, “Mayoritas orang Indonesia ketika dapat informasi yang bersifat hoaks, kemampuan identifikasinya itu beragam. Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi tersebut, 25% yakin, dan 45% bimbang antara yakin dan tidak yakin. Jadi sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi.”

Senior Product Marketing Specialist PINTU Reyner Jonathan memberikan tips bagi peserta untuk terhindar dari penipuan dalam finansial serta manfaat penggunaan AI, “Banyak sekali penipuan yang menggunakan AI yang juga menyasar kalangan ibu-ibu. Pertama jika mendapatkan informasi yang belum jelas sumbernya, tanamkan sifat tidak mudah percaya, kedua jangan panik, ketiga cek sumbernya, lihat nomornya, jika mengatasnamakan institusi tertentu bisa dicek dulu ini benar nomor resminya atau bukan, dan jangan klik link sembarang maupun link phishing,”

Reyner menambahkan, “AI juga memiliki banyak manfaat bisa dipergunakan untuk hal yang positif. Misalnya bagi ibu-ibu yang suka masak bisa bertanya resep masakan, atau bagi yang sedang mencari barang tertentu dan ingin melakukan komparasi produknya. Terakhir bisa mendukung untuk berjualan, seperti membuat caption untuk media sosial, menghitung pembukuan, dan lainnya. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif.”

Dalam penggunaan teknologi AI, Indonesia disebut sebagai negara dengan tingkat adopsi yang tinggi. Berdasarkan laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, 69% pekerja Indonesia yang disurvei menyatakan telah memanfaatkan AI dalam pekerjaannya sepanjang satu tahun terakhir untuk meningkatkan produktivitas.  

“Kami berkomitmen untuk mendukung program edukasi dan literasi bagi masyarakat agar masyarakat bisa lebih waspada terhadap segala bentuk tindak kejahatan berbasis digital serta mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik,” tutup Reyner.

Spread the love

Related post